IMDE Gelar Kuliah Umum tentang Industri Digital

IMDE Dorong Mahasiswa Beralih dari Pengguna AI Menjadi Pelaku Industri Digital

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang baru bagi dunia pendidikan. Institut Media Digital Emtek (IMDE) mendorong mahasiswa agar tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai pengguna, tetapi juga mampu menciptakan solusi dan peluang bisnis di industri digital.

Pesan tersebut disampaikan pelaku industri digital, Muntasir Rahman, saat menjadi pembicara dalam kuliah umum bertema “Dari Pengguna Digital Menjadi Pelaku Industri Digital” yang berlangsung di Kampus IMDE, Kompleks Emtek City, Jakarta Barat, pada 18 Juni 2026.

Menurut Muntasir, transformasi digital menghadirkan kesempatan besar bagi mahasiswa untuk membangun karier maupun usaha berbasis teknologi. Ia menilai kemampuan memanfaatkan AI harus berkembang menjadi kemampuan menciptakan produk, layanan, dan inovasi digital.

“Kita jangan sebatas jadi pengguna digital saja, tapi harus jadi pelaku digital. Dengan begitu, banyak keuntungan yang bisa diraih,” ujar Muntasir.

baca juga”Growth Hormone Anak Banyak Diproduksi Saat Tidur Malam

Perjalanan Karier Muntasir Rahman di Industri Teknologi

Dalam kuliah umum tersebut, Muntasir juga membagikan pengalaman profesionalnya di bidang teknologi. Ia mengawali karier dengan mengembangkan layanan dompet digital (digital wallet) di Indonesia sebelum melanjutkan karier di Singapura bersama Thermo Fisher Scientific, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat.

Setelah memperoleh pengalaman internasional, Muntasir kembali ke Indonesia dan mendirikan TPL Software. Perusahaan tersebut kini berfokus mengembangkan solusi teknologi informasi dan perangkat lunak.

Pengalaman lintas negara tersebut menjadi contoh bahwa kompetensi digital mampu membuka peluang karier di tingkat global sekaligus mendorong lahirnya perusahaan teknologi lokal.

Kuliah Umum IMDE Lengkapi Pembelajaran Literasi Digital

Kuliah umum ini merupakan bagian dari mata kuliah Literasi Digital yang diampu dosen IMDE, Suradi. Kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh wawasan langsung dari praktisi industri.

Suradi mengatakan pendekatan tersebut diharapkan memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi digital yang terus berubah.

Sementara itu, Ketua Program Studi Produksi Media IMDE, Teguh Setiawan, menilai kuliah umum menjadi bekal penting menjelang mata kuliah AI for Content Creation yang akan ditempuh mahasiswa pada semester enam.

Ia mengakui sebagian besar akademisi masih berada pada tahap memanfaatkan AI sebagai pengguna. Namun, ia berharap mahasiswa mampu melangkah lebih jauh menjadi pelaku industri digital yang menghasilkan inovasi.

Pentingnya Etika dalam Pemanfaatan Teknologi Digital

Selain membahas peluang industri digital, Muntasir mengingatkan pentingnya etika dalam penggunaan teknologi informasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi juga memunculkan berbagai risiko, seperti penyebaran konten pornografi, judi online, penipuan digital, hingga praktik eksploitasi pengguna melalui platform digital.

Ia menilai setiap inovasi teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab moral agar manfaatnya lebih besar daripada dampak negatif yang ditimbulkan.

Muntasir mengungkapkan bahwa sejak awal kariernya, ia memilih fokus pada pengembangan teknologi informasi yang mengedepankan prinsip etika serta perlindungan terhadap pengguna.

Attention Economy Menjadi Tantangan Baru di Era Digital

Platform Digital Berlomba Memperebutkan Perhatian Pengguna

Muntasir menjelaskan bahwa model bisnis platform digital saat ini banyak bergantung pada data pengguna. Setiap aktivitas pencarian di internet akan membentuk profil digital yang kemudian dimanfaatkan untuk menampilkan konten maupun iklan yang paling relevan.

Menurutnya, praktik tersebut melahirkan konsep attention economy, yaitu persaingan berbagai platform untuk merebut perhatian pengguna selama mungkin.

Ia menilai perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas yang sangat bernilai karena waktu setiap orang terbatas hanya 24 jam dalam sehari.

Akibatnya, berbagai penyedia layanan digital berlomba menciptakan konten yang mampu membuat pengguna terus melakukan aktivitas seperti menggulir layar (scrolling), menonton video, atau memainkan gim dalam waktu lama.

Muntasir mengingatkan bahwa kondisi tersebut perlu dipahami secara kritis agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam konsumsi konten yang berlebihan.

Waktu Menjadi Aset Paling Berharga di Era Digital

Menurut Muntasir, aset paling berharga dalam ekonomi digital bukan lagi sekadar data, melainkan waktu pengguna.

Semakin lama seseorang menggunakan suatu platform, semakin besar pula peluang platform tersebut memperoleh keuntungan melalui iklan maupun layanan digital lainnya.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi digital yang baik agar mampu mengelola waktu secara bijak dan tidak menjadi korban persaingan industri digital dalam memperebutkan perhatian pengguna.

Muntasir Paparkan Tiga Tahap Perkembangan Artificial Intelligence

Pada sesi akhir kuliah umum, Muntasir menjelaskan perkembangan AI yang saat ini terbagi menjadi tiga tahapan utama.

Tahap pertama adalah Artificial Narrow Intelligence (ANI), yaitu AI yang hanya mampu menjalankan tugas tertentu secara spesifik, seperti sistem pengenalan wajah pada ponsel atau rekomendasi film di platform streaming.

Tahap berikutnya adalah Artificial General Intelligence (AGI). Teknologi ini masih berada dalam tahap penelitian dan diharapkan mampu berpikir, belajar, serta beradaptasi layaknya manusia dalam berbagai bidang.

Sementara tahap paling maju adalah Artificial Superintelligence (ASI), yaitu AI yang diproyeksikan memiliki kemampuan melampaui kecerdasan manusia dalam hampir seluruh aspek, mulai dari sains hingga kreativitas.

Menurut Muntasir, ASI berpotensi membantu menyelesaikan berbagai persoalan global, seperti penyakit dan perubahan iklim. Namun, teknologi tersebut juga membawa tantangan besar apabila tidak dikembangkan dengan tata kelola dan pengawasan yang tepat.

Kuliah umum ini menjadi pengingat bahwa perkembangan AI tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga literasi digital, etika, serta kesiapan sumber daya manusia. IMDE berharap mahasiswa mampu memanfaatkan momentum transformasi digital untuk menjadi inovator dan pelaku industri yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

baca juga”IMDE dan Puspita Martha International Beauty School Jajaki Kerja Sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post